KOMUNIKASI
I. Pentingnya Komunikasi
Beberapa alasan pentingnya Komunikasi:
a. Komunikasi mendatangkan efektifitas yang lebih besar
b. Komunikasi menempatkan orang-orang pada tempat yang seharusnya.
c.
Komunikasi membawa orang-orang untuk terlibat dalam organisasi dan
meningkatan motivasi untuk melibatkan kinerja yang baik, dan
meningkatkan komitmen terhadap organisasi.
d. Komunikasi
menghasilkan hubungan dan pengertian yang lebih baik antara bawahan,
kolega, dan orang-orang di dalam organisasi dan di luar organisasi.
e. Komunikasi menolong orang-orang untuk mengerti perlunya perubahan.
f.
Komunikasi meminimalkan permasalahan-permasalahan di dalam
keorganisasian seperti konflik, stress, demotifasi dan loyalitas.
II. Definisi Komunikasi
Beberapa definisi komunikasi dapat disebut di bawah ini.
1.
Louis Forsdale (1981), seorang ahli komunikasi dan pendidikan,
mengungkapkan “communication is the process by which system is
established, maintained, and altered by menans of shared signals that
operate according to rules”. Komunikasi diartikan sebagai suatu proses
memberikan signal menurut aturan tertentu, sehingga dengan cara ini
suatu system dapat didirikan, dipelihara dan diubah.
2. Gatewood
and Taylor (1996) mendefinisikan komunikasi sebagai suatu proses
memindahkan informasi dan pengertian (maksud) dari satu orang kepada
orang lain.
3. Stoner, Freeman dan Gilbert (1996) mengartikan
komunikasi sebagai suatu proses yang dipergunakan oleh manusia untuk
mencari kesamaan arti lewat tranmisi pesan simbolik.
4. Newman dan
Summer (1961) mengartikan komunikasi sebagai proses pertukaran fakta,
ide, opini atau emosi melalui kata-kata, surat-surat, symbol-simbol atau
pesan.
III. Proses Komunikasi
Proses komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari pengirim
kepada penerima, menggunakan isyarat tangan, atau menggunakan sarana
komunikasi tertentu lainnya.
1. Pengirim (sender)
Proses komunikasi diawali oleh pengirim
sebagai sumber pesan. Pengirim, dalam kerangka keorganisasian dapat
berupa karyawan biasa, manajer, atau pihak luar yang memberikan gagasan,
maksud, informasi dan bertujuan mengadakan kumunikasi. Pengirim dalam
hal ini telah menentukan makna apa yang akan disampaikannya. Agar apa
yang akan disampaikan itu dapat tersusun dengan baik, maka sender perlu
menyusun sebuah rencana yang berisi makna utama apa yang akan
disampaikan.
2. Penyandian (encoding)
Tindakan pemberian arti simbol-simbol
pada pemikiran, misalnya memutuskan kata-kata mana yang harus dikatakan
atau ditulis disebut sebagai penyandian (encoding). Penyandian itu perlu
karena informasi hanya dapat dikirimkan dari seorang kepada orang lain
lewat perwakilan atau sandi.
3. Saluran Komunikasi (communication chanel)
Ketika orang-orang
berkomunikasi dalam lingkungan organisasi, mereka biasanya
menggabungkan tampilan vokal (saluran pendengaran) dan pandangan
(saluran penglihatan). Sentuhan (saluran peraba), penciuman (saluran
penciuman), dan perasa (saluran saraf) juga digunakan dalam saluran
pesan dalam komunikasi. Fungsi saluran komunikasi di sini adalah sebagai
alat menyampaikan pesan. Untuk menyampaikan pesan yang dimaksud,
seseorang dapat meggunakan berbagai macam, yaitu tatap muka, telepon,
pertemuan kelompok, komputer, memo, pernyataan kebijakan, system
imbalan, jadwal produksi, dan ramalan penjualan.
4. Pengertian Sandi (Decoding)
Pesan yang diterima kemudian
diinterpretasikan dan diterjemahkan ke dalam informasi yang mempunyai
arti. Proses ini dilakukan dengan dua cara, pertama penerima harus
menerima, kemudian mengartikannya. Pengertian dipengaruhi oleh
pengalaman penerima, pemilihan penilaian pribadi mengenai simbol dan
gerakan tubuh yang dipakai, dan harapan. Meciptakan gelombang suara yang
penuh arti adalah sandi yang tepat, yang pantas untuk penyandian dengan
melalui suatu sumber; menterjemahkan gelombang suara ke dalam pemikiran
merupakan penguraian sandi (decoding).
5. Penerimaan (Receiver)
Bila pesan tidak sampai pada
penerima, maka komunikasi itu belum terjadi. Artinya, pesan yang
dikirimkan itu harus diterima baik (dipahami) oleh penerima. Oleh karena
itu pesan yang dikirimkan harus jelas kepada siapa pesan itu ditujukan.
Dalam hal ini kita tidak akan menggunakan cara yang sama dalam
berkomunikasi kepada anak-anak dan berkomunikasi kepada orang dewasa.
Jadi dalam berkomunikasi siapa pendengarnya perlu dipertimbangkan.
6. Umpan Balik (Feedback)
Sebuah rangkaian umpan balik
(Feedback) memberi saluran bagi tanggapam penerima yang memungkinkan
sender untuk menentukan apakah pesan telah diterima dan menghasilkan
tanggapan yang dimaksudkan. Bagi manajer, umpan balik komunikasi ini
mungkin datangdari berbagai macam cara. Dalam situasi tatap muka, umpan
balik bias terjadi secara langsung melalui tanda-tanda atau sandi.
Dengan diberikannya reaksi ini kepada si pengirim (sender), perngirim
akan dapat mengetahui apakah pesan yang dikirimkan tersebut
diinterpretasikan sama dengan apa yang dimaksudkan oleh si pengirim.
Bila arti pesan yang dimaksudkan oleh si pengirim berarti komunikasi
tersebut efektif.
7. Kegaduhan (noise)
Gangguan (noise) merupakan sifat yang melekat
pada komunikasi. Dalam setiap proses komunikasi, kegaduhan atau
kendala-kendala dalam berkomunikasi akan selalu ada. Gangguan dapat
timbul dalam saluran komunikasi, atau metode pengiriman seperti udara
dan kertas. Ganggua juga dapat terjadi secara internal (kurang perhatian
penerima) atau eksternal (gangguan suara lain).
IV. Komunikasi Persuasif
Komunikasi persuasif adalah komunikasi yang bertujuan untuk mengubah
atau memengaruhi kepercayaan, sikap, dan perilaku seseorang sehingga
bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunikator.
Pada umumnya sikap-sikap individu/ kelompok yang hendak dipengaruhi ini terdiri dari tiga komponen:
a. Kognitif – perilaku dimana individu mencapai tingkat “tahu” pada objek yang diperkenalkan.
b. Afektif – perilaku dimana individu mempunyai kecenderungan untuk suka atau tidak suka pada objek.
c. Konatif – perilaku yang sudah sampai tahap hingga individu melakukan sesuatu (perbuatan) terhadap objek.
Kepercayaan/ pengetahuan seseorang tentang sesuatu dipercaya dapat
memengaruhi sikap mereka dan pada akhirnya memengaruhi perilaku dan
tindakan mereka terhadap sesuatu. mengubah pengetahuan seseorang akan
sesuatu dipercaya dapat mengubah perilaku mereka. Walaupun ada kaitan
antara kognitif, afektif, dan konatif – keterkaitan ini tidak selalu
berlaku lurus atau langsung.
V. Pandangan tentang ProsesKomunikasi
Komunikasi
pemasaran terlalu sering hanya berfokus untuk mengatasi kesenjangan kesadaran
akan produk, citra, atau preferensi dalam pasar sasaran. Tetapi pandangan dalam
komunikasi pemasaran ini memiliki beberapa keterbatasan, terlalu pendek dan
mahal, dan sebagian besar pesan jenis ini tidak sampai kepada pelanggan sasaran.
Sekarang
terjadi gerakan yang memandang komunikasi sebagai pengelolaan proses pembelian
pelanggan sepanjang waktu. Selama tahap sebelum penjualan, tahap penjualan,
tahap pemakaian, dan tahap setelah pemakaian. Dan karena setiap pelanggan
berbeda, program komunikasi perlu dirancang untuk segmen, celah pasar, dan bahkan
individu tertentu. Dengan adanya teknologi elektronik baru, perusahaan harus
bertanya bukan hanya "Bagaimana kita dapat menjangkau pelanggan
kita?" tetapi juga "Bagaimana kita dapat menemukan cara yang
memungkinkan para pelanggan kita mencapai kita?”
Dengan
demikian, titik awal dalam proses komunikasi adalah memeriksa semua interaksi
potensial yang mungkin dimiliki pelanggan sasaran dengan produk dan perusahaan.
Misalnya, seseorang yang ingin membeli komputer akan bertanya pada orang lain,
melihat iklan di televisi, membaca artikel di koran dan majalah, dan mengamati komputer
yang dipajang di toko-toko komputer. Pemasar perlu menilai pengalaman dan
kesan-kesan manakah yang paling berpengaruh pada berbagai tahap dalam proses
pembelian. Pemahaman ini akan membantu pemasar dalam mengalokasikan dana
komunikasinya dengan lebih efisien.
Untuk
melakukan komunikasi secara efektif, pemasar perlu memahami unsur-unsur
fundamental yang mendasari komunikasi yang efektif. Gambar 9.1 menunjukkan
suatu model komunikasi dengan sembilan unsur. Dua unsur merupakan pihak-pihak
utama dalam suatu komunikasi, meliputi pengirim dan penerima. Dua unsur
merupakan alat komunikasi utama, meliputi pesan dan media. Empat unsure merupakan
fungsi komunikasi utama, meliputi pengkodean (encoding), penguraian kode (decoding),
tanggapan (response), dan umpan balik (feedback). Unsur terakhir
dalam sistem tersebut adalah gangguan (noise), yaitu pesan-pesan acak
dan yang menyaingi dapat mengganggu komunikasi.
Model
ini menekankan faktor-faktor penting dalam komunikasi efektif. Pengirim harus
tahu pendengar apa yang harus dicapai dan tanggapan apa yang diinginkan. Mereka
harus mengkodekan pesan mereka dalam suatu cara yang mempertimbangkan bagaimana
pendengar sasaran biasanya menguraikan kode pesan. Mereka juga harus
mengirimkan pesan itu melalui media yang efisien dalam mencapai pendengar
sasaran dan membangun saluran umpan balik untuk memantau tanggapan penerima
atas pesan itu.
Agar
suatu pesan dapat efektif, proses pengkodean dari pengirim harus berhubungan
dengan proses penguraian kode oleh penerima. Artinya, pesan yang terbaik adalah
pesan yang disampaikan dengan tanda-tanda yang dikenali oleh penerimanya.
Apabila penerima memiliki persamaan pengalaman dengan penerima pesan, maka komunikasi
yang dilakukan akan lebih efektif. Persyaratan ini akan mempersulit komunikator
dari suatu lapisan sosial (misalnya pegawai periklanan) yang ingin
berkomunikasi secara efektif dengan lapisan sosial lain (misalnya pekerja
pabrik). Tugas pengirim adalah mengupayakan pesan sampai kepada penerima.
Pendengar sasaran mungkin tidak menerima pesan yang dimaksudkan, karena:
- Perhatian selektif (selective
attention) : orang yang dibombardir 1.600 pesan komersial dalam
sehari, 80 diantaranya diperhatikan secara sadar dan hanya sekitar 12 yang
memancing reaksi. Dengan demikian, komunikator harus merancang pesan yang dapat
menarik perhatian walaupun dikelilingi banyak gangguan. Perhatian selektif
menjelaskan mengapa iklan dengan judul tercetak tebal yang menjanjikan
sesuatu, seperti "Bagaimana Menjadi Seorang Jutawan". Disertai
dengan ilustrasi yang menarik dan sedikit tulisan, memiliki kemungkinan
besar untuk menarik perhatian. Untuk usaha yang sangat sedikit, penerima
mungkin mendapatkan imbalan yang luar biasa besar.
- Penyimpangan selektif (selective
distortion) : orang mungkin menyimpangkan pesan untuk mendengar apa
yang mereka ingin dengar. Penerima telah menetapkan serangkaian sikap,
yang mempengaruhi ekspektasi tentang apa yang ingin mereka dengar atau
lihat. Mereka hanya akan mendengar apa yang sesuai dengan keyakinan
mereka. Akibatnya adalah penerima sering menambahkan hal-hal yang tidak
ada pada pesan itu (amplification) dan tidak memperhatikan hal-hal
lain yang ada pada pesan itu (leveling). Tugas komunikator adalah
berusaha merancang pesan yang sederhana, jelas, menarik dan berulang-ulang
agar inti dari pesan tersebut dapat diterima oleh penerima.
- Ingatan selektif (selective
recall) : orang akan menyimpan sebagian kecil dari pesan yang
diterimannya di ingatan jangka panjang. Apakah suatu pesan akan melewati
ingatan jangka pendek ke ingatan jangka panjang tergantung pada jumah dan jenis
pengulangan pesan yang dilakukan oleh penerima. Pengulangan itu (rehearsal)
bukan sekedar mengulangi pesan, melainkan suatu proses yang dilakukan
penerima untuk memperjelas arti informasi itu sehingga membawa pemikiran-pemikiran
yang berkaitan dari ingatan jangka panjang ke ingatan jangka pendek
penerima. Jika sikap awal penerima terhadap obyek itu positif dan ia
mengulang argumen-argumen pendukungnya, pesan itu kemungkinan besar akan
diterima dan selalu diingat. Jika sikap awal penerima itu negatif dan ia mengulang
argumen-argumen penentangnya, pesan itu kemungkinan besar ditolak, tetapi
akan tersimpan dalam ingatan jangka panjang. Sikap menentang tersebut
menghambat persuasi dengan cara menciptakan suatu pesan yang berlawanan.
Karena terlalu banyak persuasi, penerima memerlukan mengulang pemikirannya
sendiri, maka yang disebut persuasi adalah persuasi diri sendiri (self
persuasion).
Komunikator
harus mencari sifat-sifat penerima yang berhubungan erat dengan daya persuasi
dan menggunakan sifat-sifat ini untuk mengarahkan pesan dan mengembangkan
media. Orang yang berpendidikan dan/atau berkecerdasan tinggi dianggap lebih
sulit dipengaruhi, tetapi pernyataan ini tidak menyakinkan. Orang yang memiliki
konsep diri yang lemah tampaknya lebih mudah dipengaruhi, seperti juga orang
yang kurang percaya diri. Namun, penelitian yang dilakukan oleh Cox dan Bauer
(1979;46) menunjukkan hubungan kurva linear antara kepercayaan diri dengan daya
persuasi, yaitu mereka yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang sedang
adalah mereka yang paling mudah dipengaruhi.
Komunikator
juga perlu memperhatikan kesadaran para penerima bahwa komunikator sedang
berusaha mempengaruhi mereka. Orang yang sebelumnya telah dihadapkan pada
beberapa upaya persuasi akan memberikan tanggapan yang berbeda dengan orang
yang belum pernah dipengaruhi sebelumnya. Fiske dan Hartley (1980;79)
menunjukkan faktor-faktor umum yang mempengaruhi efektivitas suatu komunikasi:
- Semakin besar monopoli sumber komunikasi terhadap penerima, semakin besar
kemungkinan penerima akan menerima pengaruh atau pesan tersebut.
- Pengaruh komunikasi yang paling besar adalah pada saat pesan yang disampaikan
sesuai dengan pendapat, kepercayaan dan watak penerima.
- Komunikasi dapat menyebabkan perubahan yang efektif atas masalah yang tidak
dikenal, dianggap ringan, dan bukan inti, yang tidak terletak pada pusat sistem
nilai penerima itu.
- Komunikasi akan lebih efektif jika sumber dipercaya memiliki keahlian, status
yang tinggi, obyektif, atau disukai, tetapi yang paling utama adalah sumber
memiliki kekuasaan dan dapat diidentifikasikan.
- Konteks sosial, kelompok atau kelompok referensi akan menjadi penengah dalam
komunikasi dan mempengaruhi apakah komunikasi akan diterima ataukah ditolak.
VI. Memilih Saluran Komunikasi
Macam saluran komunikasi
• Saluran interpersonal dan media massa
• Saluran lokal dan saluran kosmopolit
Saluran interpersonal adalah saluran yang melibatkan pertemuan tatap
muka (sumber dan penerima) antara dua orang atau lebih. Misalnya rapat
atau pertemuan kelompok, percakapan langsung, pembicaraan dari mulut ke
mulut, dsb.
Sedangkan saluran media massa adalah alat-alat penyampai pesan yang
memungkinkan sumber mencapai suatu audiens dalam jumlah besar, yang
dapat menembus batasan waktu dan ruang. Misalnya radio, televisi, film,
surat kabar, buku, dsb.
Saluran anatar pribadi disebut saluran lokalit apabila kontak-kontak
langsung itu sebatas daerah atau sistem sosial itu saja. Sedangkan
saluran melalui media massa sudah pasti bersifat kosmopolit. Sebaliknya
saluran media massa dapat dipastikan bersifat kosmopolit.
Dalam difusi inovasi saluran komunikasi memiliki karakter kelebihan
dan kelemahan masing-masing. Oleh karena itu dalam menggunakan saluran
komunikasi ini perlu mempertimbangkan berbagai hal. Hasil penelitian
Rogers dan Beal (1960) berkaitan dengan saluran komunikasi menunjukan
beberapa prinsip sebagai berikut:
1) saluran komunikasi massa relatif lebih penting pada tahap
pengetahuan dan saluran antar pribadi (interpersonal) relatif lebih
penting pada tahap persuasi;
2) saluran kosmopolit lebih penting pada tahap pengetahuan dan saluran lokal relatif lebih penting pada tahap persuasi.
3) saluran media masa relatif lebih penting dibandingkan dengan
saluran antar pribadi bagi adopter awal (early adopter) dibandingkan
dengan adopter akhir (late adopter); dan
4) saluran kosmopolit relatif lebih penting dibandingkan dengan
saluran lokal bagi bagi adopter awal (early adopter) dibandingkan dengan
adopter akhir (late adopter)
Pembedaan sifat tersebut tentu saja masih dapat diperhalus lagi,
misalnya antara bentuk media massa satu dengan media massa lain mungkin
ada sifat-sifat yang berbeda; radio memiliki keampuhan tersendiri yang
berbeda dengan yang dimiliki oleh media majalah, atau televise dalam
penyampaian pesan-pesan kepada penerima. Begitu pula halnya dengan
saluran interpersonal. Dengan memperhatikan perbedaan sifat itu, jika
seseorang ingin berhasil dalamkomunikasinya maka ia harus dapat memilih
saluran yang tepat yang sesuai dengan tujuan komunikasi, konteks pesan
dan siapa penerimanya.
VII. Model Komunikasi Pemasaran
Berikut adalah model komunikasi pemasaran:
Pertama kali pesan komunikasi datang dari sumber. Dalam pemasaran sumber
berarti pihak yang mengirim pesan pemasaran kepada konsumen. Pihak yang
mengirim pesan tentu saja perusahaan. Proses selanjutnya yaitu
perusahaan menentukan bagaimana pesan itu disusun agar bisa dipahami dan
direspons secara positif oleh penerima dalam hal ini konsumen. Pada
proses tersebut ditentukan pula jenis komunikasi apa yang akan
digunakan. Apakah pesan akan disampaikan melalui iklan, personal
selling, promosi penjualan, publik relation atau pemasaran langsung.
Proses enconding ini juga disebut sebagai proses menerjemahkan
tujuan-tujuan komunikasi ke dalam bentuk-bentuk pesan yang akan
dikirimkan kepada penerima.
Proses selanjutnya yaitu menyampaikan pesan melalui media. Jika
pesan dirancang dalam bentuk iklan, maka pesan harus disampaikan dalam
bentuk media cetak atau media elektronik. Pesan yang disampaikan dalam
media cetak akan berbeda bentuk dan strukturnya dengan pesan yang
disampaikan dalam media elektronik.
Pesan dalam media cetak biasanya
bersifat detail dan menjelaskan karakteristik produk secara lengkap.
Sedangkan pesan yang akan disampaikan dalam media elektronik seperti
radio dan televisi tidak boleh secara detail menerangkan produk karena
akan sangat memakan biaya. Proses penyampaian pesan melalui media ini
disebut sebagai proses transmisi.
Pesan yang disampaikan melalui media akan ditangkap oleh penerima.
Ketika pesan diterima, penerima akan memberikan respons terhadap pesan
yang disampaikan. Respons yang diberikan bisa positif, negatif atau
netral. Respon positif tentu saja adalah respons yang diharapkan oleh
pengirim pesan. Respon positif identik dengan terjadinya keserasian
antara harapan pengirim pesan dengan tanggapan penerima pesan.
Dengan perkataan lain, pesan yang dirancang direspons sesuai dengan
keinginan perancang pesan.
Kesesuaian antara harapan pengirim dengan
tanggapan penerima inilah yang diharapkan terjadi, karena hal ini akan
mempengaruhi perilaku konsumen secara positif. Hal yang tidak diharapkan
terjadi adalah respons negatif atau netral dari konsumen (penerima
pesan), respon negatif ini terjadi karena tidak terjadinya keserasian
antara harapan pengirim pesan dengan respons dilakukan oleh penerima.
Pengirim mengharapkan A, konsumen mengharapkan B, jadi ada
ketidaksesuaian antara harapan pengirim dengan tanggapan konsumen.
Proses memberikan respons dan menginterprestasikan pesan yang diterima
disebut sebagai proses decoding. Proses decoding berarti penerima pesan
memberi interprestasi atas pesan yang diterima.
Proses decoding ini akan dilanjutkan dengan tindakan konsumen sebagai
penerima pesan, jika pesan yang sampai diterima secara positif, maka
hal ini akan memberikan pengaruh positif pada sikap dan perilaku
konsumen. Sikap positif konsumen terhadap suatu produk akan mendorong
konsumen untuk melakukan tindakan pembelian, karena dibatasi oleh
kemampuan daya beli. Sedangkan sikap negatif terhadap produk akan
menghalangi konsumen untuk melakukan tindakan pembelian. Janganlah sikap
negatif, sikap positif pun tidak semuanya diakhiri dengan pembelian,
apalagi jika sesorang mempunyai sikap negatif, pasti akan sangat
menghalangi tindakan pembelian. Oleh karena itu, pembentukan sikap
positif terhadap produk sangat penting dilakukan oleh perusahaan.
Proses terakhir yaitu umpan balik atas pesan yang dikirimkan.
Perusahaan mengevaluasi apakah pesan yang disampaikan sesuai dengan
harapan, artinya mendapat respons dan tindakan yang positif dari
konsumen atau justru pesan tidak sampai secara efektif. Pengukuran
efektifitas pesan adalah tingkat penjualan produk yang ditawarkan ke
pasar. Pesan melalui iklan disebut berhasil atau efektif jika tingkat
penjualan produk setelah proses penyampaian pesan meningkat secara
signifikan. Sebaliknya pesan yang disampaikan tidak efektif jika
setelah pesan disampaikan penjualan produk tidak meningkat, atau justru
turun. Indikator penjualan ini seharusnya menjadi sinyal awal bagi
perusahaan untuk melakukan penelitian atas pesan yang sampaikan ke
konsumen.
VIII. Alat-alat Komunikasi Pemasaran
Periklanan
Karena banyaknya bentuk dan penggunaan periklanan, sangat sulit untuk
membuat generalisasi yang merangkum semuanya. Namun, sifat-sifat
berikut dapat diperhatikan:
Presentasi umum: Periklanan yang bersifat umum itu memberikan
semacam keabsahan pada produk dan menyarankan tawaran yang
terstandardisasi. Karena banyak orang menerima pesan yang sama, pembeli
mengetahui bahwa motif mereka untuk membeli produk tersebut akan
dimaklumi oleh umum.
Tersebar luas: Periklanan adalah medium yang berdaya sebar luas yang
memungkinkan penjual mengulang pesan berkali-kali. iklan juga
memungkinkan pembeli menerima dan membandingkan pesan dari berbagai
pesaing. Periklanan berskala besar oleh seorang penjual menyiratkan hal
yang positif tentang ukuran., kekuatan, dan keberhasilan penjual.
Ekspresi yang lebih kuat: Periklanan memberikan peluang untuk
mendramatisasi perusahaan dan produknya melalui penggunaan cetakan,
suara, dan warna yang penuh seni.
Tidak bersifat pribadi: Audiens tidak merasa wajib untuk
memperhatikan atau menanggapi. Iklan hanya mampu melakukan monolog,
bukan dialog, dengan audiens.
Promosi Penjualan
Walaupun alat promosi penjualan-kupon, kontes, harga premi, dan
sejenisnya sangat beragam, semuanya memberikan tiga manfaat yang
berbeda:
Komunikasi: Promosi penjualan menarik perhatian dan biasanya
meinberikan informasi yang dapat mengarahkan konsumen ke produk
bersangkutan. Insentif Promosi penjualan menggabungkan sejumlah kebebasan, dorongan, atau kontribusi yang memberi nilai bagi konsumen.
Ajakan: Promosi penjualan merupakan ajakan untuk melakukan transaksi pembelian sekarang.
Perusahaan menggunakan alat-alat promosi penjualan itu untuk
menciptakan tanggapan yang lebih kuat dan lebih cepat. Promosi penjualan
dapat digunakan untuk mendapatkan akibat jangka pendek seperti
mendramatisir tawaran produk dan mendorong penjualan yang lentur.
Hubungan Masyarakat dan Publisitas
Daya tarik hubungan masyarakat dan publisitas didasarkan pada tiga sifat khusus:
Kredibilitas yang tinggi: Ceritera dan gambar mengenai beritanya
lebih otentik dan dipercaya oleh pembaca dibandingkan dengan iklan.
Kemampuan menangkap pembeli yang tidak dibidik sebelumnya: Hubungan
masyarakat dapat menjangkau banyak calon pembeli yang cenderung
menghindari wiraniaga dan iklan.
Dramatisasi: Hubungan masyarakat memiliki kemampuan untuk mendramatisasi suatu perusahaan atau produk.
Pemasar cenderung kurang menggunakan hubungan masyarakat; tetapi
program hubungan masyarakat yang direncanakan dengan baik dan
dikoordinasikan dengar elemen bauran promosi yang lain dapat menjadi
sangat efektif.
Penjualan personal
Penjualan personal adalah alat yang paling efektif-biaya pada tahap
proses pembeliar lebih lanjut, terutama dalam membangun preferensi,
keyakinan, dan tindakan pembeli. Penjualan personal, memiliki tiga ciri
khusus:
Konfrontasi personal: Penjualan personal mencakup hubungan yang
hidup, langsung dan interaktif antara dua orang atau lebih.
Masing-masing pihak dapat mengobservasi reaksi dari pihak lain dengan
lebih dekat.
Mempererat: Penjualan personal memungkinkan timbulnya berbagai jenis
hubungar mulai dari hubungan penjualan sampai hubungan persahabatan.
Wiraniaga biasanya sudah benar-benar mengetahui_ minat pelanggan yang
terbaik.
Tanggapan: Penjualan personal membuat pembeli merasa berkewajiban untuk mendengarkan pembicaraan wiraniaga.
Pemasaran Langsung
Meski terdapat berbagai bentuk pemasaran langsung-surat langsung,
pemasaran jarak jauh, pemasaran elektronik, dan sebagainya-semuanya
memiliki empat karakteristik berikut. Pemasaran langsung bersifat:
Nonpublik: Pesan biasanya ditujukan kepada orang tertentu.
Disesuaikan: Pesan dapat disiapkan untuk menarik orang yang dituju.
Terbaru: Pesan dapat disiapkan dengan sangat cepat.
Interaktif: Pesan dapat diubah tergantung pada tanggapan orang tersebut
IX. Periklanan
Advertising (periklanan) adalah penyajian materi secara persuasif kepada
publik melalui media massa dengan tujuan untuk mempromosikan barang
atau jasa. Advertising (periklanan) adalah bisnis ide dan kreatifitas (Roman, Maas
& Nisenholtz, 2005) Menggambar hanyalah ekspresi citra yang kita
tuangkan sebagai bentuk konsep ide di dalam pikiran namun akarnya tetap
ide itu sendiri, menggambar lebih merupakan sarana untuk mencapai
tujuan.Proses mengungkapkan ide dalam bentuk gambar penting dalam
periklanan, namun gambar yang bagus dan indah bukan hal yang utama
karena kita hanya dituntut untuk dapat menuangkan ide dalam bentuk citra
gambar (Lwin & Aitchison. 2005) Jadi, mampu menggambar dengan baik
bukan persyaratan di dunia periklanan. Memiliki naluri dan ide pemasaran
yang memungkinkan untuk memadukan sebuah usulan penjualan dan
nilai-nilai komersial sebuah gagasan jauh lebih penting.
Periklanan atau Promosi (Advertising) adalah suatu bentuk komunikasi
yang ditujukan untuk mengajak orang yang melihat, membaca atau
mendengarnya untuk melakukan sesuatu
Otto Klepper : Istilah advertising berasal dari bahasa latin yaitu
ad-vere yang berarti mengoperkan pikiran dan gagasan kepada pihak lain.
Dunn dan Barban : Iklan merupakan bentuk kegiatan komunikasi non
personal yang disampaikan lewat media dengan membayar ruang yang
dipakainya untuk menyampaikan pesan yang bersifat membujuk (persuasive)
kepada konsumen oleh perusahaan, lembaga non komersial maupun pribadi
yang berkepentingan.
Periklanan merupakan pesan-pesan penjualan yang paling persuasif yang
diarahkan kepada para calon pembeli yang paling potensial atas produk
barang atau jasa tertentu dengan biaya yang semurah-murahnya.”`
Definisi lain mengatakan bahwa periklanan merupakan penyebaran
informasi tentang suatu gagasan, barang atau jasa, untuk ‘membujuk’
orang agar berfikir, bersikap atau bertindak sesuai dengan keinginan
pengiklan.
Kegiatan kreatif yang berkaitan jasa periklanan (komunikasi satu arah
dengan menggunakan medium tertentu), yang meliputi proses kreasi,
produksi dan distribusi dari iklan yang dihasilkan, misalnya:
perencanaan komunikasi iklan, iklan luar ruang, produksi material iklan,
promosi, kampanye relasi publik, tampilan iklan di media cetak (surat
kabar, majalah) dan elektronik (televisi dan radio), pemasangan berbagai
poster dan gambar, penyebaran selebaran, pamflet,edaran, brosur dan
reklame sejenis, distribusi dan delivery advertising materials atau
samples, serta penyewaan kolom untuk iklan.
Segala bentuk pesan tentang suatu produk disampaikan melalui suatu
media, dibiayai oleh pemrakarsa yang dikenal, serta ditujukan kepada
sebagian atau seluruh masyarakat.
X. Promosi Penjualan
Promosi penjualan terdiri dari kumpulan alat-alat insentif yang
beragam, sebagian besar berjangka pendek, dirancang untuk mendorong
pembelian suatu produk/jasa tertentu secara lebih cepat dan/atau lebih
besar oleh konsumen atau pedagang.
Sementara iklan menawarkan alasan untuk membeli, promosi penjualan
menawarkan insentif untuk membeli. Promosi penjualan mencakup alat untuk
promosi konsumen (sampel, kupon, tawaran pengembalian uang, potongan
harga, premi, hadiah, hadiah langganan, percobaan gratis, garansi,
promosi berhubungan, promosi silang, pajangan dan demonstrasi di toko
tempat pembelian); promosi perdagangan (potongan harga, tunjangan iklan
dan pajangan, dan barang gratis); dan promosi bisnis dan wiraniaga
(misalnya, pameran dan konvensi perdagangan, kontes untuk wiraniaga, dan
iklan khusus).
Kiat promosi penjualan digunakan oleh sebagian besar organisasi,
termasuk perusahaan manufaktur, distributor, pengecer, asosiasi
perdagangan, dan organisasi nirlaba.
Satu dekade yang lalu, rasio iklan terhadap promosi penjualan
mencapai sekitar 60:40. Saat ini, di banyak perusahaan
barang-konsumsi-kemasan, promosi penjualan merupakan 65 persen sampai 75
persen dari anggaran gabungan. Pengeluaran promosi penjualan telah
meningkat sebagai persentase dari anggaran pengeluaran tahunan selama
dua dekade terakhir ini.
Beberapa faktor memberikan kontribusi pada pertumbuhan pesat promosi
penjualan, terutama dalam pasar konsumen. Faktor-faktor internal
termasuk hal-hal berikut: Promosi sekarang lebih diterima oleh manajemen
puncak sebagai alat penjualan yang efektif; semakin banyak manajer
produk yang memenuhi syarat untuk menggunakan alat promosi penjualan;
dan manajer produk berada di bawah tekanan keras untuk meningkatkan
penjualan saat ini. Faktor-faktor eksternal mencakup hal-hal berikut:
Jumlah merek yang bertambah; pesaing sering menggunakan promosi; banyak
merek yang terlihat sama; konsumen semakin berorientasi-harga;
perdagangan menuntut lebih banyak tawar-menawar yang diharuskan oleh
produsen; dan efisiensi iklan telah berkurang karena meningkatnya
biaya, kekacauan media, dan hambatan hukum.
Pesatnya pertumbuhan media promosi penjualan telah menciptakan
situasi kekacauan prornosi, serupa dengan kekacauan iklan. Konsumen
mungkin mulai jenuh, sehingga kupon dan media lain akan melemah
kemampuannya dalam mendorong pembelian. Produsen harus mencari jalan
untuk mengatasi kekacauan itu, misalnya, dengan menawarkan nilai
kupon-penebusan yang lebih besar atau menggunakan pajangan atau
demonstrasi di toko tempat pembelian yang lebih dramatis.
XI. Penjualan Tatap Muka
Penjualan tatap muka adalah kegiatan mempromosikan suatu produk
dengan cara mendatangi ke tempat konsumen berada, oleh seorang
wiraniaga/salesperson. Dengan adanya kontak langsung antara wiraniaga
dan konsumen, maka terjadilah komunikasi dua arah.
Tugas seorang wiraniaga adalah sebagai berikut :
1. memberikan informasi produk kepada konsumen
2. menjelaskan manfaat produk kepada konsumen
3. menjawab pertanyaan/argumentasi dari konsumen
4. mengarahkan konsumen agar terjadi transaksi
5. memberikan pelayanan purna jual
Sifat-sifat penjualan tatap muka adalah sebagai berikut :
1. personal atau adanya kontak langsung dengan konsumen
2. tanggapan langsung atas pertanyaan/reaksi konsumen
3. mempererat hubungan dengan konsumen, apabila sikapnya memuaskan
4. biaya operasionalnya cukup tinggi
XII. Hubungan Masyarakat
Humas adalah fungsi manajemen yang mengevaluasi opini, sikap, dan
perilaku publik, mengidentifikasi kebijakan-kebijakan dan
prosedur-prosedur suatu individu atau sebuah organisasi dengan
kepentingan publik, dan nmerencanakan serta melaksanakan program aksi
untuk memeroleh pengertian dan dukungan public.
Dalam suatu perusahaan, humas (Hubugan Masyarakat) adalah profesi
yang memegang kendali agar perusahaan tersebut dapat berjalan dengan
baik. Humas dianggap menjadikan perusahaan menjadi lebih baik karena
dalam kinerjanya, ia harus bisa membangun citra perusahaan tersebut agar
penilaian orang terhadap perusahaan tersebut positif.
Pekerjaaan humas perusahaan bukan saja mengumpulkan artikel, dan
terkesan ‘omong doang’, namun dalam pekerjaannya kita harus melakukan
hal-hal penting seperti survey tempat, dan melakukan evaluasi tentang
apa yang kita lakukan. Jika memang terdapat suatu kesalahan pahaman
masyarakat tentang perusahaan tempat dimana humas itu bekerja, maka ia
harus bisa mengakali dengan cara apapun untuk mengembalikan citra
perusahaan tersebut.
Pekerjaan humas sangat erat kaitannya dengan pers. Apalagi humas
perusahaan. Humas perusahaan harus bisa mencari penyebab terjadi kesalah
pahaman dengan media massa. Media massa yang hanya ‘asal mencari
berita’ biasanya akan menuliskan apapun yang ia ketahui secara sepihak
tentang hal yang terjadi pada suatu perusahaan. Memang itu melanggar
kode etik jurnalistik, namun biasanya untuk mendapatkan uang, wartawan
menulis berita yang seharusnya tidak di tulis. Peran humas disini sangat
penting, karena dengan adanya humas kita bisa mengklarifikasi berita
yang dianggap salah.
Humas perusahaan harus bisa secerdik mungkin dalam menyusun strategi
untuk meningkatkan citra dan reputasi perusahaan, apalagi di zaman yang
semakin banyak persaingan ini. Dunia humas saat ini sudah memasuki era
yang disebut era kompetisi, di mana pembentukan, pemeliharan dan
peningkatan citra (termasuk reputasi) menjadi sangat krusial (penting).
Dengan banyaknya perusahaan, maka persaingan makin ketat. Peran
humas, bukan hanya menyebarkan informasi kepada khalayak agar
mendapatkan opini dan penangkapan kesan mereka terhadap perusahaan.
Humas juga harus bisa membangun kepercayaan khalayak tentang perusahaan.
Maka dari itu pekerjaan humas tidak terlepas dari two way communication
(Komunikasi dua arah).
Pekerjaan humas tentu saja tidak terlepas dari prinsip komunikasi,
yaitu menciptakan suatu komunikasi yang efektif. Keefektifan suatu
komunikasi baru akan tercapai bila timbulnya saling pengertian antara
komunikasi dan komunikator, atau bisa dikatakan timbulnya persepsi yang
sama tentang memaknai suatu hal.
Humas perusahaan adalah tulang punggung perusahaan, jika perusahaan
itu ingin mendapatkan reputasi yang baik di mata masyarakat, maka
perusahaan itu harus mempunyai humas yang bisa meningkatkan citra
perusahaan tersebut, karena perusahaan akan mempunyai citra yang baik,
jika
Sumber :