Senin, 04 November 2013

Autobiografi


Hello.. Nama saya Vicky Anggraini, saya anak pertama dari 3 bersaudara. Saya anak pertama dari pasangan Edy Sutrisno dan Nunung Nurhayati. Ayah saya sudah lama meninggal sekitas 3 setengah tahun yang lalu, dan sekarang saya tinggal dengan ibu saya. Dia seorang ibu rumah tangga biasa dan seorang wirausahawan,karna ibu saya menjalankan sebuah warung sembako di depan rumah saya.
Saya lahir pada tanggal 18 Juni 1993 pada jam-jam sehabis subuh, sekitas jam 6an. Ibu saya cerita ketika ingin melahirkan saya, dia mengalami sakit yang sangat luar biasa, karena saya anak pertama dan pertama kali pula ibu saya melahirkan. Ibu saya cerita dia masuk ke ruang persalinan sekitar pukul 20.00 WIB pada tanggal 17 Juni, tetapi beliau melahirkan saya keesokan paginya tepat pukul 5.30 WIB. Dan saat itulah aku lahir di dunia hehe… Sesaat setelah aku lahir, ayah dan ibuku segera memikirkan nama yang tepat untuk anak pertamanya, dan mereka sepakat memberi nama Vicky Anggraini. Sejujurnya aku sendiri tidak tau makna dari nama tersebut, pernah aku tanya ke ibuku dan dia hanya bilang kalau nama itu  nama yang bagus. Okeh saya percaya itu pasti nama yang bagus haha
Saat usia saya sudah menginjak 3 tahun, saya sudah bersekolah di taman kanak-kanak TK PKK, Tk itu terletak di alamat jalan TB. Badarudin, hanya 10 menit dari rumahku. Dia Tk saya ada @ guru yang mengajar, yang pertama bernama Bu Tuti dan kedua bernama Bu Ina. Kelas di TK saya dibagi menjadi 2, yaitu TK A dan TK B. Dan saya masuk ke dalam TK B yang diajarkan oleh Bu Tuti. Dia sangat baik terhadap saya, ketika saya sedang makan bekal yang bawa saya, beliau selalu menemani saya dan terkadang beliau memberikan makanan yang ia ounya kepada saya. Oiya di TK saya punya teman yang dekat dengan saya namanya Ulfa, Rumahnya juga tidak terlalu jauh dari TK tempat saya sekolah. Saya selalu bersama dengan Ulfa selama di TK, saya juga duduk satu meja dengan dia. Dia orang yang baik, walaupun sangan pendiam. Dia TK saya juga ada anak cowo bernama Andri, dia anak yang cukup nakal, ya sekarang saya dapet maklum kenapa dia begitu nakal saat TK, yaa nakalnya dia pun sewajarnya anak kecil lainnya haha.. Oiya pernah suatu hari saya lagi bermain dengan Andri dan UKfa di perosotan depan TK, dan Andri secara tiba-tiba Andri terjatuh dari perositan itu, Saya dan Ulfa sangat kaget, dan setelah saya liat sudah banyak darah di kepalanya, dan ternyata kepalanya Andri terbentur batu yang ada di dekat perosotan. Langsung sesaat setelah itu Bu Tuti dating dan langsung di bawa klinik dekat TK, dan yang kasihan lagi dahinya harus dijahit ( bisa dibayangkan gimana sakitnya bagi anak usia 4 tahun).. Tapi unutngnya setelah itu dia tidak terlalu parah dan setalah 3 hari kemudian, dia masuk sekolah seperti biasa.
Saat Usia saya umur 4 tahun, Ibu saya melahirkan anaknya yang kedua, dan itu seorang bayi laki-laki. Namanya Alvy Rizaldy. Dia sangat ganteng, kulitnya putih,hidungnya mancung dan badannya pun panjang yang menandakan dia pasti akan jadi anak yang tinggi kelak besar nanti. Saya sangat senang dengan adanya adik baru, dan itu bayi laki-laki pula. Tetapi setelah satu bulan dia dilahirkan, saya melihat ada yang aneh dari dirinya, saya melihat dia sangat lemah dan selalu dibawa ibu dan ayah bolak-balik ke rumah sakit, dulu mungkin saya tidak mengerti apa yang terjadi dengan dia, tetapi setalah saya mulai mengerti saya bertanya ke ibu apa yang terjadi dengan Alvi adik laki-laki saya. Ibu saya cerita kalau Alvi terkena penyakit yang disebabkan oleh virus yang disebabkan oleh bulu hewan seperti kelinci dan kucing, memang dulu disaat ibu saya sedang hamil saya mempunyai dua ekor kelinci kecil yang dibelikan oleh ayah saya. Tapi saya belum mengerti kalau ternyata virus yang terbawa dari bulu hewan itu terkena ke adik saya, Jujur saja saya sangat sedih mendengar hal itu. Tapi apa daya hal itu sudah terjadi. Nama penyakit yang di derita oleh adik saya itu dikenal dengan sebutan Hydrocephalus, penyakit ini berupa adanya cairan yang terlalu banyak di otaknya, dan itu sangat butuh tindakan medis yang serius, Ibu saya cerita dulu Alvi di operasi dan dimasukan selang yang di tempatkan dari kepala sampai perut untuk mengeluarkan cairan yang ada di kepalanya, Namun sayang setelah berjuang cukup kuat adik saya Alvi Rizaldy meninggal saat umurnya 4 bulan. Walaupun saat itu saya masih berusia 4 tahun, saya yakin saya dapat merasakan sedih yang dirasakan ibu dan ayah saya saat itu.
Setahun berlalu saat saya usia 5 tahun , ibu sayang hamil lagi anak yang ketiga, dan sekarang menurut USG adik saya seorang perempuan. Saya senang, karna hal itu dapat menggantikan rasa kehilangan akibat meninggalnya Alvi. Tepat pada tanggal 6 Agustus 1998, adik saya lahir didunia. Menurut saya dia sangat mirip ke ibu saya dari wajah,sifat hingga pembawaannya saat ini, sekarang dia suduh berumur 15 tahun dan sedang duduk di Sekolah Menengah Kejuruan 48 Jakarta.
Pada saat saya berusia 6 tahun, saya mulai masuk ke sekolah dasar,bertempat di SDN 07 pagi, sekolah ini juga tidak terlalu jauh dari rumah saya tinggal sekitar 15 menit jalan kaki. Awal saya masuk ke SD, saya sangat pemalu, karna saya merasa tidak familiar dengan anak-anak lainnya, dan ternyata teman TK saya Ulfa satu SD juga dengan saya, dan hal itu sangat membuat saya senang. Menurut teman-teman SD saya, saya tipikal orang yang pemalu dan tidak banyak bicara. Dan menurut teman-taman saya, saya juga merupakan anak yang pintar (kepedean banget yah haha), tapi yaa Alhamdulillah selama saya di SD dari kelas 1-6 saya selalu mendapatkan peringkat 3 besar. Oiya selama di SD saya punya saingan dalam peringkat di kelas, Namanya Bian Agasi. Dia orangnya sangat easy going banget, dan saya akui dia cukup cerdas dan tipikal orang yang kritis.
Saat SD saya selalu di ajukan untuk mengikuti kegiatan cerdas cermat oleh wali kelas saya, dan sayaselalu dipasangkan dengan si Bian ini. Tetapi sangat di sayangkan saya belom pernah mendapatnya juara 1 ( pesaingnya susah-susah banget) hahaha… Saat saya sudah menginjak kelas 6 SD, saya sangat bersemangat unutk melanjutkan ke jenjang SMP, karna menurut saya jenjang SMP sangat menarik dan penuh dengan kegiatan yang mangasyikan. Akhirnya setlah lulus dari SDN 07 pagi, saya melanjutkan di SMPN 158 Jakarta yang letaknya pun tidak jauh dari rumah saya, karena bersebelahan dengan SD saya dulu. Pertama kali saya masuk ke SMP, saya di tempatkan di kelas 7-2. Anak-anaknya sangat baik dan juga sangat mudah bergaul, jadi saya tidak susah untuk beradaptasi di kelas 7-2. Setelah masuk SMP, saya memutuskan untuk mengambil ekstrakulikuler Paskibra, karna saya lumayan tinggi jadi saya masuk kedalam criteria yang menjadi syarat untuk masuk PASKIBRA SMPN 158. Awal saya mendafar, saya mengikuti tes yang cukup sulit, seperti melakukan dasar-dasar baris-berbaris dan juga cara untuk bersikap disiplin dan tegas. Jujur saat itu saya merasa ining menyerah karna itu diluar pikiran saya, tetapi saya piker lagi, lebih baik dilanjutkan karna mungkin itu dapat membentuk diri saya menjadi orang yang lebih tegas dan disiplin lagi. Setelah melewati test, 3 hari kemudian saya di beritahu kalau saya masuk kedalam Paskibra SMPN 158, jujur saya sangat senang mendengar hal itu.
Setelah saya masuk ke dalam ekskul Paskibra, saya bilang ke ibu saya untuk membelikan saya seperangkat peralatan untuk mendukung paskibra, seperti : seragam paskibra putih panjang, topi,sepatu pantopel, kaus kaki, dan juga rok pendek putih. Sebulan setelahnya, saya di tunjuk sebagai pembawa bendera pada upacara yang biasa dilakukan hari senin. Saya sangat senang sekaligus gugup karena saya takut melakukan kesalahan. Tapi saya di yakinkan oleh Pembina Paskibra saya kalo saya bisa. Dan akhirnya saya berhasil melaksanakan tugas menjadi pembawa bendera untuk upacara hari senin itu. Ssya mengikuti ekskul Paskinra selama 1 tahun, saat saya kelas 1 SMP. Dan saat saya kelas 2 SMP saya mengikuti ekskul lain yaitu Padus (paduan suara). Saya sangat suka menyanyi, menurut saya menyanyi itu salah satu passion saya, walaupun belom bisa terwujud sampai sekarang hahaha
Setelah saya lulus SMP, saya memutuskan untuk masuk SMA karena saya berniat untuk melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Akhirnya saya masuk di SMAN 36 Jakarta. Dan saya juga masuk ke jurusan IPS Karena saya menyukai akuntansi. Menurut saya SMA memang merupakan masa-masa menyenangkan. Karena di SMA saya mendapat teman-teman yang baik, dan juga seorang pacar haha iya seorang pacar.. sebut saja dia “S” haha saat SMA saya memiliki seorang pacar, seperti kata orang-orang kalau masa SMA itu masanya pacaran haha.. Tapi di SMA engga hanya tentang pacar, tapi kebanyakan tentang mencari jati diri.. Selama di SMA saya belajar banyak dari masalah-masalah yang saya hadapi, Karena jujur saya tipikel orang yang susah beradaptasi dengan sekitar. Tetapi saat masuk SMA saya mulai bisa bergaul dengan mudah dan tidak merasa canggung sama sekali.
Selama di SMA saya masuk ke ekskul paduan suara, karena ingin melanjutkan kegiatan paduan suara yang sudah saya ikuti di SMP. Tetapi karena saya baru masuk jadi saya harus mendaftarkan diri lagi dan mengikuti test untuk menentukan bagian suara saya. Ada teman saya yang mengikuti tes ke paduan suara bersama saya, namanya Icha, suaranya sangat bagus, saya sering minta dia untuk nyanyi di depan saya, dia memnag sudah sering mengikuti kejuaran menyanyi seperti itu. Dan memang wajar saja, dengan suara yang enak di dengar dan tekhnik vocal yang dia bisa dia sering mrndapatkan juara. Saat saya mengikuti test, saya di suruh menyanyikan tangan nada dasar dan akhirnya saya di tempatkan di Alto, kerana suara saya cenderung yang lebih tinggi dan falsetto yang bagus. Selama saya mengikut ekskul Paduan Suara di sekolah saya dan kawan-kawan padus pernah mengikuti kejuaran lomba menyanyi antar sekolah. Yaa walaupun tidak juaratapi merupakan pengalaman yang menyenangkan di tambah saya menyukai apa yang saya lakukan.
Setelah saya memasuki kelas 3 SMA saya sudah tidak mengikuti ekskul padus lagi, Karen akebijakan sekolah yang melarang anak-anak kelas 3 untuk ikut ekstrakulikuler. Karena kita semua harus focus untuk UAS dan UN. Jadwal UN waktu itu sekitar bulan April, saya sebelumnya sudah mengikuti berbagai macam Try out untuk latihan soal dan membiasakan diri terhadap soal-soal UN. Setelah UN berakhir, saya menetapkan diri untuk mengikuti SNMPTN, dan pilihan saya jatuh ke UNJ ( Univarsitas Negri Jakarta) tetapi memang bukan milinya saya tidak dapat lolos SNMPTN. Dan akhirnya saya mencoba untuk mencari Universitas swata yang bagus dan akhirnya saya masuk di Universitas  Gunadarma dan sekarang saya sudah masuk di semester 5.. saya sungguh semangat ingin menyelesaikan jenjang S1 saya. Karena saya sangat ingin dapat membantu ibu saya dan adik-adik saya kedepannya.
Cukup sekian autobiografi saya. Mudah-mudahan dengan kalian membaca sekilas autobiografi saya, kalian dapat mengenal saya lebih baik lagi. 

Tulisan 6 Perilaku Konsumen ( Persepsi Konsumen)


PERSEPSI KONSUMEN
I .Stimuli Pemasaran dan Persepsi Konsumen
Persepsi Konsumen adalah suatu proses yang membuat seseorang memilih, mengorganisasikan, dan menginterpretasikan rangsangan-rangsangan yang diterima menjadi suatu gambaran yang berarti dan lengkap tentang dunianya.
Stimuli atau stimulus merupakan bentuk fisik, visual atau komunikasi verbal yang dapat mempengaruhi individu. Stimuli terdiri dari 2 bentuk yaitu:
§  Stimuli Pemasaran
§  Stimuli Lingkungan

II. Karakteristik Konsumen yang Mempengaruhi Persepsi

Menurut Robbins  (1998) persepsi dapat dipengaruhi oleh karakter seseorang. Karakter tersebut dipengaruhi oleh :

1. Attitudes
Dua individu yang sama, tetapi mengartikan sesuatu yang dilihat itu berbeda satu dengan yang lain.

2.Motives
Kebutuhan yang tidak terpuaskan yang mendorong individu dan mungkin memiliki pengaruh yang kuat terhadap persepsi mereka.

3.Interests
Fokus dari perhatian kita sepertinya dipengaruhi oleh minat kita, karena minat seseorang berbeda satu dengan yang lain. Apa yang diperhatikan oleh seseorang dalam suatu situasi bisa berbeda satu dengan yang lain. Apa yang diperhatikan seseorang dalam suatu situasi bisa berbeda dari apa yang dirasakan oleh orang lain.

4.Experiences
Fokus dari karakter individu yang berhubungan dengan pengalaman masa lalu seperti minat atau interest individu. Seseorang individu merasakan pengalaman masa lalu pada sesuatu yang individu tersebut hubungkan dengan hal yang terjadi sekarang.

5.Expectations
Ekspektasi bisa mengubah persepsi individu dimana individu tersebut bisa melihat apa yang mereka harapkan dari apa yang terjadi sekarang.

III. Faktor-faktor yang mempengaruhi Persepsi

Menurut Nugroho J. Setiadi (2003), Faktor yang mempengaruhi persepsi adalah penglihatan dan sasaran yang diterima dan dimana situasi persepsi terjadi penglihatan.
Tanggapan yang timbul atas rangsangan akan dipengaruhi sifat-sifat individu yang melihatnya,, sifat yang dapat mempengaruhi persepsi yaitu :


1.    Sikap
Sikap yang dapat mempengaruhi positif atau negatifnya tanggapan yang akan diberikan seseorang.

2.    Motivasi
Motif merupakan hal yang mendorong seseorang mendasari sikap tindakan yang dilakukannya.

3.   Minat
Merupakan faktor lain yang membedakan penilaian seseorang terhadap suatu hal atau objek tertentu, yang mendasari kesukaan ataupun ketidaksukaan terhadap objek tersebut.

4.   Pengalaman masa lalu
Dapat mempengaruhi persepsi seseorang karena kita biasanya akan menarik kesimpulan yang sama dengan apa yang pernah dilihat dan didengar.

5.   Harapan
Mempengaruhi persepsi seseorang dalam membuat keputusan, kita akan cenderung menolak gagasan, ajakan, atau tawaran yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.

6.   Sasaran
Sasaran dapat mempengaruhi penglihatan yang akhirnhya akan mempengaruhi persepsi.

7.   Situasi
Situasi atau keadaan disekita kita atau disekitar sasaran yang kita lihat akan turut mempengaruhi persepsi. Sasaran atau benda yang sama yang kita lihat dalam situasi yang berbeda akan menghasilkan persepsi yang berbeda pula

IV. Proses Persepsi
Persepsi timbul karena adanya stimulus (rangsangan) dari luar yang akan mempengaruhi seseorang melalui kelima alat inderanya yaitu penglihatan, pendengaran, pembauan, perasaan dan sentuhan. Stimulus tersebut akan diseleksi, diorganisir dan diinterprestasikan oleh setiap orang dengan caranya masing-masing.
A.   Seleksi
Proses persepsi diawali dengan adanya stimuli yang mengenai panca indera yang disebut sebagai sensasi. Ada dua faktor yang merupakan karakteristik stimuli yang dapat mempengaruhi pemilihan konsumen dalam memilih stimuli yang akan diperhatikan yaitu :
§  Faktor dari stimuli itu sendiri.
>Kekontrasan atau perbedaan yang menyolok
>Kebaruan
>Intensitas
> Besarnya ukuran
§  Faktor Internal.
>Ebankosur Selektif
>Perhatian selektif
>Bertahan secara Perseptual
>Menutup secara Perseptual
B.   Pengorganisasian
Prinsip dasar penting dalam pengorganisasian meliputi :
§  Gambar dan Latar Belakang
Agar stimuli yang diperhatikan dapat mudah untuk diberi makna, konsumen akan menghubungkan dan mengkaitkan antara gambar dengan dasar, mengkaitkan antara apa yang ada dengan konteksnya sehingga punya makna.
§  Pengelompokan
>Prinsip Keterdekatan
>Kesamaan
>Kesinambungan
C.   Interpretasi
Setelah konsumen mengorganisir stimuli yang ada dan mengkaitkannya dengan informasi yang dimiliki, maka agar stimuli tersebut mempunyai makna, konsumen menginterpretasikan atau memberi arti stimuli tersebut. Terdapat beberapa factor yang menyebabkan terjadinya kesalahan dalam menginterpretasi pesan yaitu :
>Penampilan Fisik
>Stereotip
>Isyarat/tanda-tanda yang tidak relevan
>Kesan pertama
V. Peran Ekspektasi pada Persepsi
Ekspektasi bisa mengubah persepsi individu dimana individu tersebut bisa melihat apa yang mereka harapkan dari apa yang terjadi sekarang.

VI. Semiotis
Keller memandang komunikasi sebagai tindakan-tindakan, meliputi tindakan memproduksi sesuatu yang dapat diterima oleh akal manusia, dengan tujuan untuk membawa manusia lainnya kepada suatu penarikan kesimpulan dari suatu interpretasi. Dalam hal ini, Keller menyatakan bahwa komunikasi merupakan suatu guessing game. Kemampuan untuk menyediakan model-model interpretatif bagi mitra tutur untuk “menebak” tujuan komunikasi disebut Keller sebagai kompetensi semiotis (semiotic competence). Sedangkan pengetahuan yang mendasari kompetensi semiotis disebutnya sebagai pengetahuan semiotis (semiotic knowledge). Kompetensi semiotis dan pengetahuan semiotis adalah kebutuhan logis dari sebuah kompetensi bahasa. Melalui kemampuan kita untuk menggunakan persepsi secara interpretatif, serta kemampuan kita untuk menggunakan kemampuan tersebut untuk tujuan komunikasi, tanda-tanda bahasa muncul secara spontan. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa bahasa merupakan hasil dari penggunaan pengetahuan semiotis yang dimiliki oleh seseorang, untuk mempengaruhi mitra tuturnya (Keller, 1998: x).

VII. Inferensi Perseptual
Perseptual adalah kemampuan memahami dan menginterpresentasikan informasi sensori atau kemampuan intelek untuk mencarikan makna yang diterima oleh panca indera.

Inferensi adalah tindakan atau proses yang berasal kesimpulan logis dari premis-premis yang diketahui atau dianggap benar.

Kesimpulannya adalah tindakan akhir yang sesuai dengan kebenaran informasi yang kita peroleh dari panca indera.

VII. Implikasi Pemasaran dan Inferensi Perseptual
Konsumen cenderung membentuk citra terhadap merek, toko, dan perusahaan didasarkan pada inferensi mereka yg diperoleh dr stimuli pemasaran & lingkungan.

Citra : total persepsi trhdp suatu objek, yg dibentuk dgn memproses informasi dr berbagai sumber setiap waktu. Pemasar harus secara konstan mencoba mempengaruhi citra konsumen.


Sumber :
http://titayulianita.wordpress.com/2011/07/05/bab-5-persepsi-dan-pembelajaran-konsumen/
http://seputar-mahasiswa.blogspot.com/2013/01/persepsi-konsumen.html
http://astriedherera46.blogspot.com/search?updated-min=2013-01-01T00:00:00%2B07:00&updated-max=2014-01-01T00:00:00%2B07:00&max-results=15

Kamis, 31 Oktober 2013

BAB 5 PERILAKU KONSUMEN : KEPRIBADIAN DAN GAYA HIDUP


KEPRIBADIAN DAN GAYA HIDUP

I .Kepribadian dan Perilaku Konsumen
Goldon Allport  mendefinisikan personality/kepribadian sebagai suatu organisasi dinamik dari system-sitem psikologis dalam individu yang menentukan penyesuaian yang unik terhadap lingkungannya.
Dalam batasan kepribadian yang dikemukakan di atas ada 4 hal yang perlu diuraikan yakni :
1. dinamis, berarti kepribadian selalu berubah. Perubahan ini digerakkan oleh tenaga-tenaga dari dalam diri individu yang ebrsangkutan, akan tetapi perubahan tersebut tetap berada dalam batas-batas bentuk polanya.
2. organisasi system, ini mengandung pengertian bahwa kepribadian itu merupakan suatu keseluruhan yang bulat.
3. psikofisis, ini berarti tidak hanya bersifat fisik dan juga tidak hanya bersifat psikis tetapi merupakan gabungan dari kedua sifat tersebut.
4. unik, berarti kepribadian antara individu yang satu dengan yang lain tidak ada yang sama.
II. Karakteristik Pribadi Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen
Keputusan membeli dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti umur dan tahap daur hidup pekerjaan, situasi ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep diri pembeli.
·                     Umur dan Tahap Daur Hidup
·                     Pekerjaan
·                     Situasi Ekonomi
·                     Kepribadian
III. Teori Kepribadian
Teori ini merupakan salah satu unsur penting dari setiap pengetahuan ilmiah atau ilmu, termasuk psikologi kepribadian. Tanpa teori kepribadian usaha memahami perilaku dan kepribadian manusia pasti sulit untuk dilaksanakan. Apakah yang dimaksud dengan teori kepribadian ? Menurut Hall dan Lindzey (Koeswara, 1991 : 5), teori kepriadian adalah sekumpulan anggapan atau konsep-konsep yang satu sama lain berkaitan mengenai tingkah laku manusia.
IV. Dimensi-dimensi Teori Kepribadian
Setiap teori kepribadian diharapkan mampu memberikan jawab atas pertanyaan sekitar apa, mengapa, dan bagaimana tentang perilaku manusia. Untuk itu setiap teori kepribadian yang lengkap, menurut Pervin (Supratiknya, 1995 : 5-6), biasanya memiliki dimensi-dimensi sebagai berikut :
1. Pembahasan tentang struktur, yaitu aspek-aspek kepribadian yang bersifat relatif stabil dan menetap, serta yang merupakan unsur-unsur pembentuk sosok kepribadian.
2. Pembahasan tentang proses, yaitu konsep-konsep tentang motivasi untuk menjelaskan dinamika tingkah laku atau kepribadian.
3. Pembahasan tentang pertumbuhan dan perkembangan, yaitu aneka perubahan pada struktur sejak masa bayi sampai mencapai kemasakan, perubahan-perubahan pada proses yang menyertainya, serta berbagai faktor yang menentukannya.
4. Pembahasan tentang psikopatologi, yaitu hakikat gangguan kepribadian atau tingkah laku beserta asal-usul atau proses perkembangannya.
5. Pembahasan tentang perubahan tingkah laku, yaitu konsepsi tentang bagaimana tingkah laku bisa dimodifikasi atau diubah.

V. Gaya Hidup
Gaya hidup adalah bagaimana seseorang menjalankan apa yang menjadi konsep dirinya yang ditentukan oleh karakteristik individu yang terbangun dan terbentuk sejak lahir dan seiring dengan berlangsungnya interaksi sosial selama mereka menjalani siklus kehidupan.

VI. Nilai dan Gaya Hidup
Nilai dan Gaya hidup dalam perilaku konsumen sangat berkaitan erat dalam kaidah-kaidah menganalisa Perilaku Konsumen serta relevansinya dengan strategi market dalam membentuk sebuah konsumen yang kuat dengan produsennya. Produsen tentu memiliki standar prosedur dalam menguasai pasar, tentunya apabila ingin memperoleh dan mendapatkan hati di para konsumen, hal-hal yang berkaitan dengan ini yaitu melakukan riset pemasaran, agar memperoleh hasil yang maksimal dalam proses penjualan.

VII. Menggunakan Karakteristik Gaya Hidup dalam Strategi Pemasaran
1.Segmentasi pasar sasaran
contoh : Pada produk susu mengidentifikasi beberapa kelompok gaya hidup konsumen, yaitu :
§  Konsumen yang menginginkan kesehatan dan kebutuhan gizinya terpenuhi
§  Kelompok konsumen yang sangat memperhatikan kandungan kadar lemak susu karena takut kegemukan
§  Konsumen yang mengkonsumsi karena kebiasaan saja
Berdasarkan ke tiga kelompok ini muncul dua produk yaitu:
Produk dengan kadar lemak dan kandungan gizi yang normal yang diperuntukkan kelompok ke satu dan ke tiga. Jenis produk kedua yaitu susu yang mempunyai kadar lemak yang rendah
2. Membantu dalam memposisikan produk di pasar dengan menggunakan iklan
3. Pemasar dapat menempatkan iklan produknya pada media-media yang paling cocok
4. Pemasar bisa mengembangkan produk sesuai dengan tuntutan gaya hidup mereka





SUMBER :
http://anakmamilepastopi.blogspot.com/2009/12/kepribadian-dan-gaya-hidup-tugas.html
http://yurisadewi.blogspot.com/2012/11/perilaku-konsumen-kepribadian-nilai-dan.html
http://andymardiano.blogspot.com/2012/11/kepribadian-definisi-dan-karakteristik.html
http://nataliaapriliana.blogspot.com/2013/01/nilai-dan-gaya-hidup.html
http://manajemenmandiri.wordpress.com/2012/05/14/kepribadian-konsep-diri-gaya-hidup-dan-psikografi/

Kamis, 24 Oktober 2013

Bab 4 Motivasi dan Keterlibatan


MOTIVASI DAN KETERLIBATAN

I .MOTIVASI                   
Perilaku yang termotivasi diprakarsai oleh pengaktifan kebutuhan (pengenalan kebutuhan). Kebutuhan atau motif diaktifkan ketika ada ketidakcocokan yang memadai antara keadaan aktual dan keadaan yang diinginkan atau disukai. Karena ketidakcocokan ini meningkat, hasilnya adalah pengaktifan suatu kondisi kegairahan yang diacu sebagai dorongan (drive). Semakin kuat dorongan tersebut, semakin besar urgensi respons yang dirasakan.


Sepanjang waktu pola perilaku tertentu diakui lebih efektif daripada pola yang lain untuk pemenuhan kebutuhan, dan ini menjadi berfungsi sebagai insentif. Insentif adalah ganjaran yang diantisipasikan dari jalannya tindakan yang memberi potensi pemenuhan kebutuhan.

Sebagai contoh, seorang mahasiswa perguruan tinggi yang sedang belajar untuk ujian akhir mengatakan kepada teman sekamarnya, “saya haus.” Pertama, ia merasakan ketidaknyamanan (kebutuhan yang dirasakan) yang dikenali sebagai rasa haus. Ini mengaktifkan kebutuhan yang meyebabkan dorongan. Sekaleng coca cola (minuman favoritnya) dari mesin di aula merupakan insentif, dan ia bertindak sesuai dengannya.

Menurut Wells dan Prensky (1996), motivasi sebagai titik awal dari semua perilaku konsumen, yang merupakan proses dari seseorang untuk mewujudkan kebutuhannya serta memulai melakukan kegiatan untuk memperoleh kepuasan. Sedangkan Schiffman dan Kanuk (1994) menyatakan bahwa motivasi sebagai kekuatan dorongan dari dalam diri individu yang memaksa mereka untuk melakukan tindakan. Kekuatan dorongan tersebut dihasilkan dari suatu tekanan yang diakibatkan oleh belum atau tidak terpenuhinya kebutuhan, keinginan dan permintaan. Kemudian bersama-sama dengan proses kognitif (berfikir) dan pengetahuan yang sebelumnya didapat, maka dorongan akan menimbulkan perilaku untuk mencapai tujuan atau pemenuhan kebutuhan.

Dengan demikian, jika seseorang mempunyai motivasi yang tinggi terhadap obyek tertentu, maka dia akan terdorong untuk berperilaku menguasai obyek tersebut. Sebaliknya jika motivasinya rendah, maka dia akan mencoba untuk menghindari obyek yang bersangkutan. Implikasinya dalam pemasaran adalah kemungkinan orang tersebut berminat untuk membeli produk/merek yang ditawarkan pemasar atau tidak.

II. DINAMIKA PROSES MOTIVASI
Kebutuhan yang diaktifkan akhirnya menjadi diekspresikan dalam perilaku dan pembelian dan konsumsi dalam bentuk dua jenis manfaat yang diharapkan, yaitu manfaat utilitarian, dan manfaat hedonik / pengalaman.

Manfaat utilitarian merupakan atribut produk fungsional yang objektif. Manfaat hedoik, sebaliknya, mencakupi respons emosional, kesenangan panca indera, mimpi, dan pertimbangan estetis (Hirschman & Holbrook, 1982). Kriteria yang digunakan sewaktu mempertimbangkan manfaat hedonik bersifat subjektif dan simbolik, berpusat pada pengertian akan produk atau jasa demi pengertian itu sendiri terlepas dari pertimbangan yang lebih objektif. Kedua manfaat menjadi diekspresikan sebagai kriteria evaluatif yang digunakan di dalam proses pertimbangn dan penyeleksian alternatif terbaik.

Keterlibatan (relevansi yang disadari atau kecocokan) adalah faktor penting dalam mengerti motivasi. Keterlibatan mengacu pada tingkat relevansi yang disadari dalam tindakan pembelian dan konsumsi. Bila keterlibatan tinggi, ada motivasi untuk memperolrh dan mengolah informasi dan kemungkinan yang jauh lebih besar dari pemecahan masalah yang diperluas.

Terdapat dua jenis keterlibatan: (1). Langgeng (ada sepanjang waktu karena peningkatan konsep diri), dan (2). Situasional (keterlibatan sementara yang distimulasikan oleh resiko yang disadari, tekanan konformitas, atau pertimbangan lain).

III. TUJUAN MOTIVASI KONSUMEN
Tujuan motivasi konsumen, yaitu, meningkatkan kepuasan, mempertahankan loyalitas, efisiensi, efektivitas,  menciptakan suatu hubungan yang harmonis antara produsen atau penjual dengan pembeli atau konsumen.

IV. STRATEGI YANG DIGUNAKAN UNTUK MELACAK KEPUASAN KONSUMEN
1.     Suara konsumen
2.     Survei kepuasan pelanggan
3.     Belanja acak
4.     Analisa kehilangan pelanggan.

V. ASAS MOTIVASI
Haruslah dapat meningkatkan produktivitas pembelian dan memberikan kepuasan kepada konsumen.
a.     Asas Mengikutsertakan
b.    Asas Komunikasi
c.     Asas Pengakuan
d.    Asas Wewenang yang didelegasikan
e.     Asas Perhatian Timbal Balik

VI. KETERLIBATAN
Keterlibatan adalah tingkat kepentingan pribadi yang dirasakan dan atau minat yang dibangkitkan oleh stimulus didalam situasi spesifik hingga jangkauan kehadirannya, konsumen bertindak dengan sengaja untuk meminimumkan resiko dan memaksimumkan manfaat yang diperoleh dari pembelian dan pemakaian.
Keterlibatan mengacu pada persepsi konsumen tentang pentingnya arah relevansi personal suatu objek, kejadian atau aktivitas.  Konsumen yang melihat bahwa produk yang memiliki konsekuensi relevan secara pribadi dikatakan terlibat dengan produk dan memiliki hubungan dengan produk tersebut.

VII. FOKUS KETERLIBATAN
Beberapa konsumen terlniat dengan kegiatan yang berkaitan dengan pemasaran seperti mengumpulkan kupon diskon, belanja pakaian, mencari harga terendah, atau tawar menawar dengan penjual. Adalah penting bahwa pemasar dengan jelas mengidentifikasikan focus keterlibatan konsumen. Pemasar perlu mengetahui dengan cepat apa yang disebut sebagai relevan secara pribadi oleh konsumen : produk / merek, objek, perilaku, kejadian, situasi, lingkungan, atau beberapa bahkan semua hal diatas. Karena sebagian besar pemasar tertarik dengan keterlibatan konsumen dengan produk dan merek. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keterlibatan • Relevansi – Pribadi Intrinsik Mengacu pada pengetahuan arti akhir konsumen yang disimpan dalam ingatan. Konsumen mendapatkan pengetahuan arti-akhir ini melalui pengalaman masa lalu mereka terhadap suatu produk. Pada saat menggunakan suatu produk, konsumen belajar bahwa cirri produk tertentu memilikii konsekuensi yang dapat membantu mencapai tujuan dan nilai yang penting. • Relevansi Pribadi Situasional Ditentukan oleh aspek lingkungan fisik dan social yang ada disekitar kita yang dengan segera mengaktifkan konsekuensi dan nilai penting, sehingga membuat produk dan merek yang terlihat secara pribadi dan relevan.

VIII. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETERLIBATAN

   a. Relevansi-Pribadi Instrinsik, mengacu pada pengetahuan arti akhir konsumen yang disimpan dalam ingatan.  Konsumen mendapatkan pengetahuan arti-akhir ini melalui pengalaman masa lalu mereka terhadap suatu produk.  Pada saat menggunakan suatu produk, konsumen belajar bahwa ciri produk tertentu memiliki konsekuensi yng dapat membantu mencapai tujuan dan nilai yang penting.
   b. Relevansi-Pribadi Situasional, ditentukan oleh aspek lingkungan fisik dan sosial yang ada disekitar kita yang dengan cepat mengaktifkan konsekuensi dan nilai ppenting, sehingga membuat produk dan merek yang terlihat secara pribadi dan relevan.


   
        Sumber :
j